To be A Complete Person

This is not about missing…

It is because you have this problem with the urge of being attached to someone.

You used to appreciate the solitude and tranquility of being alone, the bliss of having nobody around, only having the whole world to yourself; and one day, someone broke through your invisible box and suddenly you started to be unable to live without them, unable to not breathing the same air with them.

It’s funny, how hearts always change suddenly, inconsistenly; all without needing a proper reason or logic. They just do, whilst you can only watch them spiralling out of control, slipping from your grasp, pouring through your very fingertips.

And it hurts as it’s confusing, and sometimes you want to scream at yourself, ‘get a hold of yourself, damnit!’ yet at times you think perhaps it is the only thing you redeem normal, for all those things that had happened in your life.

For perhaps it is what it means to confide in someone.

.

.

…this is not about missing…

If—

Dan dengan jemari yang saling bertaut, berdua menatapi gemerlap kota di pinggiran atap, kakiku mengayun tak mencapai dasar lantai, ingin kuutarakan satu pertanyaan padamu, “Bagaimana jika buatku bukan kamu, ataupun buatmu bukan aku? Bagaimana jika bukan ‘kita’?”

Aku tahu kamu akan menjawab apa : “Tidak masalah buatku bukan kamu ataupun buatmu bukan aku, kita punya jodoh masing-masing. Jika memang kita memang bukan untuk satu sama lain, maka biarlah. Jika memang harus begitu adanya, biarlah.”

Sekalipun jawaban itu memang sangat logis, entah mengapa aku tahu aku akan sedih jika mendengarnya. Seakan, sebenarnya, tak ada hal khusus yang mengikat kita, tak ada apapun yang membuat “kita” spesial. Hanya dipertemukan oleh kesempatan, didekatkan oleh keadaan. Itu saja. Jika yang dipertemukan denganmu adalah orang lain, jika yang didekatkan padamu adalah orang lain, maka bukan ‘kita’.

Dan jika datang saatnya tiba-tiba kau terbangun dan sadar bahwa memang kita bukan untuk satu sama lain, mungkin kaulah yang akan lebih dulu beranjak.

Dan seperti biasa, akulah yang akan selalu tertinggal.

Bandung, 17 Mei 2012

Again, You

I don’t know since when I began to depend on you so much.

I don’t know since when that my perspective of view, which always been satisfied just being a wallflower, began to crave about you, about us, so much. That I want, need, to focus my angle of camera to us, our lives, our hopes, our dreams, our future.

Perhaps it’s your fingers entangling mine, whispering secrets and sweet-nothings in complete silence; it’s your hestitant hand patting my head, as if not sure where to put it or wheter you should put it there at all; your voice, at times a whisper of ‘sorry’s and ‘I love you’s and the other just as loud telling me to stop tickling you; your warm body next to mine, shielding me from whatever I fear whilst telling me, ‘it’s alright, I’m here, always here for you

And it’s within seconds that I realize, this is gonna be over soon, so very soon; and again I’m left with a hole I can never fill and miles of distance I can never get over. (Because no matter how pleasant, a borrowed time is not meant to last forever.)

I’m not ready to miss you again. I am not ready to face the silence I’ve get used to fill together with you. Not ready for those nights when I jolt awake and I just know I can’t call you. Not ready for a hollow pang inside my chest, knowing that you’re not there anymore, waiting me back from my class. Not ready for again, a farewell and ‘see you again months later’.

I’m going to miss you, so much. too much.

Bandung, 14 Mei 2012

Book Review : Dark Places, by Gillian Flynn

“I was not a lovable child, and I’d grown into a deeply unlovable adult. Draw a picture of my soul, and it’d be a scribble with fangs.” ~Libby Day

Libby Day, tujuh tahun, adalah satu-satunya anggota keluarga Day yang hidup setelah pembantaian yang menewaskan ibu dan dua kakak perempuannya pada tahun 1985. Dalam kebingungan dan histeris, ia menunjuk kakak laki-lakinya, Ben, sebagai pelakunya dengan alasan untuk pengorbanan bagi Satan.

24 tahun kemudian, Libby yang selama ini tidak memiliki kehidupan sosial ataupun pekerjaan sama sekali dihadapkan pada kenyataan bahwa uang donasi yang menjadi satu-satunya sumber keuangannya menipis dan ia yang belum pernah bekerja sama sekali terancam kehabisan uang.

Datanglah Lyle Wirth dari Kill Club, suatu klub khusus berisi orang-orang yang tertarik pada kasus-kasus kriminal yang dianggap janggal. Libby ditawari, atau lebih tepatnya dipaksa, untuk menelusuri lebih dalam tentang kasus pembantaian keluarganya dan mencabut tuntutannya pada Ben dengan imbalan sejumlah uang.

.

If I were to describe this work in one word, that would be : disturbing. Bukan masalah pembantaian ataupun plotnya, tapi cara pemikiran dari setiap karakter. Hampir semua karakter yang ada di sini memiliki kelemahan, tidak satupun sempurna, dan dari cara pikir mereka, it’s hard to find any characters lovable. They’re fucking downright creepy, in their own different ways.

Although I didn’t mean it in the bad way. It’s correct that they’re the characters who aren’t really right in their heads, they sometimes loathe their own lives, getting depressed with stuff they can’t really do anything about. Tapi itulah yang akan menuntun mereka untuk menguak kejadian-kejadian ini, rentetan kejadian-kejadian kecil yang berujung menjadi luar biasa besar dan di luar kontrol.

Metode narasi di sini bolak-balik antara masa sekarang (Libby) dan kejadian sehari sebelum kejadian pembantaian (bergantian antara Ben dan ibu keluarga Day, Patty). Setiap kejadian tersusun dengan sangat hati-hati dan benar-benar beruntun, hingga setiap beberapa chapter, pada setiap fakta yang terungkap, saya akan menganggukkan kepala dan berkata, “ooohh, begitu.”

Selama kisaran dua hari saya membaca buku ini, saya sangat menikmati, meskipun akan ada masa-masa ketika saya benar-benar menjadi bosan dan tak sabar. Dengan buku seperti ini, saya tidak berani mengintip ke endingnya langsung karena tentu akan merusak kenikmatan saat membacanya, spoiler. :p

But when it comes to the ending..saya agak kecewa. Well, what is revealed at the ending is just too out of the picture that it almost makes me feel stupid for reading all it through, only to be met with an ending nobody has it coming. A twist is good, but this…it just..ruins the carefully plotted scenes at the previous chapters.

Saya akan dengan senang hati menunjukkan mengapa endingnya tidak logis, tetapi nanti jadi spoiler kalau ada yang ternyata tertarik untuk membacanya, so, figure it out by yourself :D

However, I still consider this an enjoyable read. 7.8 out of 10.

Oh, anyway, kalau ada yang tertarik untuk membaca buku-buku yang pernah saya review/sebut di sini, just ask, and I’ll gladly give it away (mostly, ebook, English version :D)

Book Review : Sing You Home by Jodi Picoult

I’ll say this first : rather than a review, this post is more likely to be a downright rant, so..

Awal cerita berjalan dengan mulus, Zoe dan suaminya Max yang bergelut dengan problema infertilitas, berbagai cara telah dicoba hingga saat ini mereka mulai mecobakan pembuahan di luar tubuh dengan sel telur Zoe yang dibekukan dan sperma Max. Hingga suatu hari akhirnya Max muak dengan semua itu, merasa seakan ia hanya menjadi alat untuk memenuhi obsesi Zoe untuk memiliki keturunan, dan memutuskan untuk bercerai dengan Zoe.

Di perjalanan hidup mereka yang terpisah, Zoe bertemu dengan Vanessa -seorang guru di sekolah tempat ia bekerja menjadi terapis musik untuk seorang anak yang bermasalah, menyadari untuk pertama kalinya ia tidak pernah memiliki ketertarikan dengan siapapun seperti yang ia rasakan pada Vanessa, dan mulai menjalani hubungan intim dengannya. Sebagai Lesbian.

Di lain sisi, Max kembali pada kebiasaan untuk minum dan mabuk-mabukan. Perkenalan dengan seorang pastor yang diperantarai oleh kakaknya mengubahnya untuk menjadi lebih dekat dengan Tuhan, bahkan bisa dibilang menjadi seorang ekstrimis yang memerangi apapun yang bertentangan dengan perintah agama. Termasuk hubungan sejenis.

Cerita berlanjut, Max memergoki Zoe, mantan istrinya yang sangat ingin ia ajak untuk menjalani ‘jalan yang lurus’ justru menjadi seorang lesbian…Zoe yang berpikir ia memang tidak akan bisa memiliki keturunan karena kondisi tubuhnya, namun Vanessa bisa, bukan?

Dan saya baru baca sampai itu, sekitar setengah jalan, hingga saya putuskan untuk mendrop buku ini. Ada banyak alasan.

Yang pertama, Jodi Picoult membuat segalanya menjadi “terlalu mudah”. Saya yakin, seseorang tidak akan mengubah orientasi seksualnya dengan begitu mudah, dalam waktu yang singkat, hanya karena ia menemukan seseorang dan berpikir, “oh, she is the one!”, dan ini adalah salah satu plothole yang sangat saya sayangkan. (Vanessa sendiri memang telah menjadi lesbian sejak sebelum ia bertemu Zoe). Begitupun dengan orientasi kepercayaan, seseorang tidak akan dengan begitu mudah dari seorang pemabuk yang tidak pernah pergi ke gereja lalu tiba-tiba menjadi aktivis gereja yang memerangi segala bentuk ketidaksetiaan pada Tuhan. Mungkin ada yang akan bilang bahwa itulah yang dinamakan hidayah, tapi bukan, bukan itu. Jodi Picoult mengabaikan sesuatu yang sangat sangat penting dalam kehidupan manusia, proses.

Kedua, berhubungan dengan poin di atas, saya merasa ada terlalu banyak konflik yang dipaksakan dalam rentang waktu yang terlalu singkat, which I usually don’t have any problems with, tetapi konflik yang dipaksakan? No, thanks.

Ketiga, -this is minor but it annoys me surprisingly a lot, POV. Ada tiga tokoh utama dalam cerita ini : Zoe, Vanessa, dan Max; dan Jodi Picoult menceritakan cerita masing-masing tokoh melalui POV mereka masing-masing. Ada tiga first person’s POV yang bergantian di setiap chapter. It’s sooooooo annoying! Why can’t she settle with just one POV, or simply try with omniscent 3rd person’s POV? I am nowhere near as a proffesional writer, but even I can tell it’s a very very bad idea to do that in a lengthy read, for example a novel. I know the necessity to make the readers get a good understanding of what is going on with each of the characters, but switching POV will make it hard to focus on just one head. You are making it troublesome for the readers to have to re-orientate their ways of thinking as different character’s POV  is  presented in the beginning of each chapters.

And those are the reason I’m dropping this book.

If I should rate this book from 1 to 10, I am still kind enough to give a roughly 4, although honestly in my opinion it should have been rated less.

Oh, anyway, Jodi Picoult adalah penulis dari My Daughter’s Keeper, yang masuk dalam kategori NYT Best Seller tahun 2010 (atau 2011?) and I still didn’t get my hands on that book, yet…Let’s just hope that one wouldn’t disappoint me like this again..

magicalnaturetour:

Sergei Kokinsky Photographer :)

…shouldn’t it be a sin to be that cute? <3

magicalnaturetour:

Sergei Kokinsky Photographer :)

…shouldn’t it be a sin to be that cute? <3

nayasa:

He is not perfect

&#8220;But he will give you a part of him he knows you could break.&#8221; I think the moment anyone should ever do that is when a person trusts you completely. Giving you a piece of him, moreover a piece both of you and him know you could easily break&#8230;well, it means a lot, a whole lot. Like sharing over your heart, sharing over your life, sharing over your world&#8230;everything&#8217;s done together&#8230;
The moment anyone does it to you, it means he&#8217;s serious about you. Don&#8217;t toy with their hearts&#8230;

nayasa:

He is not perfect

“But he will give you a part of him he knows you could break.” I think the moment anyone should ever do that is when a person trusts you completely. Giving you a piece of him, moreover a piece both of you and him know you could easily break…well, it means a lot, a whole lot. Like sharing over your heart, sharing over your life, sharing over your world…everything’s done together…

The moment anyone does it to you, it means he’s serious about you. Don’t toy with their hearts…

(Source: charlotteovoxo)

“Missing someone isn’t about how long it has been since you’ve last seen them or the amount of time since you’ve talked. It’s about that very moment when you’re doing something and wishing they were right there with you.”
— (via wordsandlyrics)

(via iniceritaku)

Lost Butterfly (this is the point when i might break, almost..)

Somehow, amidst the light chatters and warm laughter, even with them right next beside you, you can feel that you don’t belong with them anymore. Not really. You feel like a stranger. But you’ll always be a stranger, no matter where or with whom. It wasn’t like that you’re a damn social butterfly, going from places to places making friends as easy as if you own the whole world for yourself. If at all, you’re just a lost butterfly, going from places to places, but never really stay. You’re just waiting for the wind to lift your fragile wings and let it carry them to new places, new people.

And this place, those people; it no longer feels like home. Perhaps it never did, since you just tend to delusional a lot in the past. Even now, remembering things that are not really there. Or perhaps, this time, you like to think that you’re right for this once, that it’s not really a home where you belong like you think in the first place.

It’s not that you really hate them. In fact, you like being with them a lot, because then you can forget and let past things you don’t want to remember about your personal life, when it’s getting too much it hurts and things begin to spiral out of your control. But somehow, it doesn’t feel right. Nothing really can justify it but it’s what you’re feeling and you’re living your own life so your feelings come first, shouldn’t it?

But the thing is, it is not the first time things like this happen, and more likely, it won’t be the last either. It keeps repeating, like your history teacher keeps saying to you in the high school  : ‘history repeats itself’. Not that you’re a big fan of history, but at least you get the point.

You’ll always walk away when they’re getting to know too much about you. You’re afraid of being understood, because you’re a fucking hypocrite who likes to keep yourself shadowed and secluded from others to view, just so that they wouldn’t know the sad, dark truths about you and your small, miserable life. You want to keep your life, your secrets, your feelings, your whole world alone to yourself; yours only to know and understand. Just like a child who refuses to lend a toy to other friends, childish and selfish and just plainly foolish.

It is because you’re afraid. You’re just so much of a coward who’s afraid of getting realized by the world. It’s funny, almost, how you always contradict yourself : you want to make the world realize you yet you get torn apart at the most ridiculous things and the you’ll immediately keep up that impenetrable wall of yours for God-knows reason what.

So now you’ll just close the door, build again that impenetrable wall again, just for the sake of it. And began to pray, to wish that there’s someone out there care enough for you to break that wall, and, stretching out both hands, says “It’s alright, you’re not alone in this. I’m with you.”

15 April 2012 . . Tulisan ini saya nemu sudah membusuk di lepi, ditulis 25 April 2011, dan hampir tepat setahun kemudian, fits my situation perfectly :)

I’ll Crazy Kouzu Basketball Club / I’ll CKBC

This, is perhaps my first love in sport manga ever. Dan saya juga nggak inget saya suka basket karena I’ll CKBC duluan atau sebalilknya, sekitar kelas 2 SMP dulu :D

Saya jadi inget dulu pas SMP/SMA saya suka sekali main basket. Suka, bukan berarti bisa, ya. I only excelled in shooting and passing, saya nggak bisa lay-up, apalagi nge-dunk (tinggi aku juga cuma berapa gitu loh -_-a). Nyobain lay-up, buntutnya saya kepentok sama tiang basketnya…kapok, haha

Satu hal yang paling menonjol dari Hiroyuki-sensei adalah artworknya yang menawan banget, cantik dan detail. Personally, saya memang nggak suka manga sport, soalnya saya nggak tertarik liat cowok-cowok keker keringetan di mana-mana (yeiks), tapi I’ll ini artworknya bagus banget dan nggak ngebosenin. bersih pula :D

Alur cerita, suka sekali. Biasanya kalau animanga sport lain kan bener-bener fokus ke sportnya, sampai kadang seakan-akan kalau bacanya saya jadi mikir, “nggak punya kehidupan lain apa yak?”. Namun I’ll ini, menurut saya sih, CMIIW ya, saya seperti membaca manga slice-of-life, yang berlatar belakang basket. Jadi saya justru merasa point kuat di sini adalah tentang kehidupan mereka itu sendiri, tentang Akane yang tadinya memutuskan untuk berhenti main basket karena “basket sudah tidak menarik lagi”, Hitonari dan konflik keluarganya yang akhirnya bisa menemukan jalan yang disukainya (bersama Akane, suit-suit #plakk), Harumoto yang bisa mengatasi dari rasa bersalahnya ke Toru dan akhirnya Toru pun bisa menemukan keberanian buat main basket lagi..Yamazaki, Kanemoto, Saki, anak-anak Hayamazaki juga….:’)

Sayangnya manga ini pendek banget, cuma 14 volume, padahal rasanya masih banyak sekali hal-hal menarik yang bakal terjadi di kehidupan mereka. Dan endingnya itu lho…saya nangis…epic, keren banget :’<
It’s not exactly a sad ending, though definitely it isn’t a happy one either..but the kind of endings that left you close the book with a contented sigh and lie down for a moment, letting yourself into the bliss with a mixed feelings.

Saya benar-benar berharap Hiroyuki-sensei bikin lanjutannya, atau oneshot kek tentang mereka lagi…karena saya sudah bolak balik baca manga ini, sampai inget semua detailnya, tapi belum bosen juga dan berharap ada cerita baru tentang mereka.

Pokoknya suka atau nggak suka basket, wajib baca! >:D

Bahkan 21 tahun pun seakan hanya sehari..sejam..sedetik…

Terlalu singkat…

Aku belum mau kehilangan apapun, siapapun…

Mama janji mau jagain anak-anakku nanti kan? Ngajarin mereka ngaji?

Aku janji mau jagain mama nanti, ngajakin jalan-jalan, beliin baju yang bagus…

Mama jangan ingkar janji…juga jangan bikin aku ingkar janji..

Resensi Buku : The Perks of Being a Wallflower, by Stephen Chbosky

jadi entah kesambet apa, beberapa hari yang lalu saya mulai berburu buku-buku lagi. Ini adalah salah satu yang baru banget saya selesaiin. Ohiya, buku ini terbitan 1999, which is quite old, haha :D

Buku ini bercerita tentang seorang anak bernama Charlie, yang merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. Kakak perempuannya merupakan senior di SMU dan kakaknya yang baru saja lulus, memperoleh beasiswa ke universitas karena kepiawaiannya dalam bermain bola. Charlie sendiri merupakan seorang junior di High School (kelas 10 kalo di Indo) dan kehidupan sekolahnya biasa-biasa saja, terlepas dari hobinya yang membaca.

Kemudian pada suatu pertandingan sepakbola, ia bertemu dengan dua bersaudara, Sam dan Patrick, yang setingkat dengan kakak perempuannya. Ia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada Sam, yang cantik tetapi dua tahun lebih tua. Charlie sendiri sudah berusaha mengungkapkan perasaannya itu pada Sam, tapi ditolak dengan alasan ia terlalu muda. Lalu mereka bertiga, Charlie, Sam, dan Patrick tetap berteman baik.

Konflik di buku ini, dengan genre slice of life, menurut saya nggak yang ‘wah’ banget. Di sini, Charlie dihadapkan dengan patah hatinya pada Sam, kemudian ia yang ‘terjebak’ untuk berpacaran dengan teman Sam, Mary Elizabeth, sebelum akhirnya ia bisa jujur pada perasaannya sendiri. Kakak perempuannya yang punya abusive boyfriend dan menghamilinya, dan kakaknya minta Charlie untuk mengantarkan aborsi ke dokter. Patrick yang gay, dan pacarnya Brad, yang pudan nya pacar perempuan juga, sebelum Brad kepergok ayahnya dan mereka bertengkar hebat, membuat Brad terpaksa memutuskan Patrick, yang sangat patah hati. Tentang bibinya, Aunt Helen yang dicabuli saat kecil, yang sangat Charlie sayangi, atau tentang teman baiknya, Michael, yang bunuh diri. Dan Charlie yang mengalami depresi hebat, hingga akhirnya harus masuk ke rumah sakit.

Charlie tidak bercerita secara langsung di sini, melainkan lewat perantara surat. Ya, bentuk cerita ini adalah surat, yang tadinya saya sangat skeptis. Dan hal yang penting di sini adalah bahwa Charlie ini benar-benar pengamat yang detail, dan menarik sekali melihatnya mengeksplorasi kejadian-kejadian di sekitar melalui kacamatanya.

Membaca buku ini, garis besarnya saya akan bilang bagus. Kuat di plot dan karakterisasi yang solid, alur cerita yang mengalir, gaya penceritaan yang tidak berbelit-belit. Minusnya bagi saya adalah, kurangnya konflik yang bisa bikin kita berdebar-debar dan penasaran, dan ketika saya menutup buku ini…saya merasa kurang puas. Buku yang bagus, it’s worth the time, really, but in the end, it isn’t good enough that it left you with nothing drastic. Buku yang bagus, buat saya adalah buku yang ‘meninggalkan jejak’. :)

Saya nggak tahu apakah buku ini sudah terbit di Indonesia, dan kalau belum, saya ragu bisa terbit tanpa sensor apapun, mengingat isu-isu yang dibahas di sini : adolescence, suicide, abusive relationship, sex, drugs and pot, abortion, child molestation, homeosexuality…(tapi kalau mau baca versi Inggrisnya pun, bahasanya cukup sederhana kok).

Terlepas dari itu, saya rasa kita semua pasti pernah mengalami masa-masa adolescence, ‘masa pendewasaan’, ketika paham kita mulai bertabrakan dengan dunia luar, cinta pertama, ketika konflik datang dan kita bahkan sudah tidak bisa lagi konsultasi ke orangtua/saudara, dimana kita mulai ragu pada pilihan kita sendiri..

rating :7.6/10 cukup deh :)